Halaman

Selasa, 14 Mei 2013


Bismillahirrahmanirrahim 
MISTERI DAN MAKNA KEMATIAN
Oleh: Muhammad Zuhri

Kematian sebagai kemungkinan
Sebagai kemungkinan 'kematian' merupakan sesuatu yang unik dan menyimpan misteri bagi kebanyakan manusia. Akal kita hanya dapat melihatnya sebagai satu-satunya kemungkinan yang kehadirannya akan merampas semua kemungkinan yang ada.
Kaum agamawan menanggapinya dengan memanfaatkannya sebagai nasehat yang ampuh untuk memperbaiki kwalitas kehidupan penganutnya. dan menempatkannya sebagai masalah yang paling sentral di dalam ajarannya. Tak ada agama yang tidak menjanjikan kematian yang sempurna.

Kematian sebagai kenyataan

Secara substansial 'kematian' hanyalah merupakan sisi lain dari kehidupan. Bila sisi yang satu tiada, sisi yang lain tak akan muncul. Keberadaannya menjadi tak terpisahkan dari wujud kehidupan. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap makhluk hidup sejak sediakala telah mendukung kematiannya sendiri. Meskipun demikian 'kematian' tetap merupakan sesuatu yang ditakuti orang.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: "Siapakah yang sebenarnya menyimpan misteri, kematian atau manusianya ?"
Menurut ajaran tasawuf, insanlah yang merupakan rahasia Allah (menyimpan misteri), sedang kematian hanya merupakan ‘the milestone of human life’ yang segera akan disusul oleh perjalan hidup selanjutnya (sisi rangkapannya, kematian).

Makna kematian yang lebih bermakna

Kaum Sufi memberi makna 'kematian' sebagai momen penobatan seseorang untuk menjadi raja yang sebenarnya. Dengan demikian 'kematian' menurut ajaran tasawuf bermakna sebagai saat dimana seseorang mulai melaksanakan peran ketuhanannya di muka bumi.
Kematian jasmaniah tidak dianggap sebagai kematian, karena tidak menawarkan perubahan yang bermakna bagi kehidupan. Seorang penjahat tidak akan berubah menjadi baik dengan datangnya kematian jasmaniah.
  • "Dan siapa yang buta di dunia ini, ia akan buta pula di akherat, dan bahkan lebih sesat lagi jalannya." (Q. Al-Isra' : 72)
  • Tawaran makna kematian yang lebih bermakna bagi kehidupan manusia oleh mazhab ahli tasawuf akan menjadi semakin jelas dengan adanya statemen berikut ini:
    "Bila kita hidup, Allah akan mati. Sebaliknya bila kita mati, Allah akan hidup."

    Menyaksikan Wajah Allah

    Bagi para Sufi, apa yang disebut 'kenyataan' adalah medan tempat Yang Maha Nyata menyatakan diri. Ia menyatakan Diri dalam rangka memberikan pelayanan, pengembangan dan perlindungan kepada makhluk- Nya. (Robbul-'alamin) .
    Kenyataan yang berwujud benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa memiliki dua wajah yang berupa 'ciptaan' dan 'amar'. Ketika seseorang menghadapi kenyataan dan yang tampak olehnya sisi 'ciptaan'-nya, ia akan bersemangat untuk hidup, dengan berupaya mengungkapkan segala fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Apabila yang tampak olehnya sisi 'amar'-nya (amrullah), ia akan kehilangan hak untuk menyentuhnya menurut kemauan sendiri.
  • "Sungguh, milik Allahlah ciptaan dan amar itu. Maha berkah Allah, Pengurus semesta alam" (Q.7:54.).
  • Menyaksikan 'amar' yang melatarbelakangi setiap 'ciptaan' itulah yang disebut menyaksikan Wajah Allah , yang oleh para Sufi dipandang sebagai sebuah kematian agung yang bernuansa abadi.
    • "Kemana saja engkau menghadap, disana terdapat Wajah Allah." (Q.2:115)
    Keadaan seseorang yang telah menyaksikan Wajhullah memang persis seperti keadaan orang yang telah meninggal. Ia akan tampil tanpa memertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula bersandar pada apa yang telah dimilikinya dari harta, ilmu-pengetahuan, amal-perbuatan dan prestasi-prestasinya. Ia tak lagi dapat terpesona oleh apa-pun, tidak pula meminta sesuatu pun, dan bahkan tidak pernah mengadukan perihal apa pun. Akibatnya ia tak lagi jinak kepada apa dan siapa pun, karena ia telah mendapatkan Allah yang tak tertandingi oleh apa dan siapa pun..
    Saat itulah seruan Allah ini dapat dipahami: "Hamba-Ku! Taatlah lepada-Ku dalam apa yang Kuperintahkan kepadamu. Jangan mengajari-Ku dengan apa Aku memperbaikimu." (Hadits Qudsi)

    Amar Allah

    Bagaima kita bisa membaca Amar (Perintah) Allah yang kontekstual dengan sikon zaman (bukan amar yang telah dapat kita ketahui di dalam Kitab Suci) supaya kita bisa menanggapinya sebagaimana mestinya?
    Seseorang tidak akan dapat membaca amar Tuhan atau menyaksikan Wajah-Nya sebelum ia mati. Maksud kata 'mati' disini adalah telah selesai dengan masalah dirinya.Yaitu seseorang yang sudah terpanggil untuk mengurusi masalah yang lebih besar, yaitu masalah ummat dan semestanya.
    "Istirahatkan dirimu dari berupaya (untuk kepentingan diri). Karena apa yang telah ditegakkan oleh selain dirimu (Allah), tak perlu engkau bersusah-payah menegakkannya untukmu" kata Ahmad bin ‘Athoillah As-Sakandari.dalam Hikamnya yang masyhur.
  • "Wahai jiwa yang telah tenang (yang telah istirahat dari memikirkan diri sendiri). Kembalilah kalian kepada-Ku dengan rela dan direlai. Dan masuklah dalam golongan hamba-Ku (yang siap menunaikan urusan Allah di wilayah kemanajerannya) dan masuklah ke dalam surga-Ku" (Q.89:27-28).
  • Di dalam Al-Qur'an golongan tersebut disebut golongan Mutawakkilin.
  • "Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah cukup baginya. Sesungguhnya Allah akan menyampaikan urusan-Nya." (Q.65:3)
  • Adapun menunaikan amar Allah berbeda dengan melakukan sesuatu yang bermotif kepentingan diri atau nilai-nilai pada umumnya. Sifat amrullah itu maf'ula (pasti terlaksana) dan tidak harus lurus dengan logika atau visi moral yang berlaku. Kisah perjalanan hidup N. Ibrahim As dan keluarganya , dan kisah N. Musa As dengan Hidlir menggambarkan hal tersebut.
    Selain itu, di balik ‘kenyataan faktual’ seorang yang melaksanakan amar Allah kita dapatkan ‘kenyataan konseptual’ yang bermakna bagi kehidupan. Perilaku Nabi Ibrahim dan isterinya Hajar di dalam menghayati perintah Tuhan menjadi sebuah konsep untuk membuka hijab bashiroh kita terhadap amar Allah.(ibadah Hajji). Pengalaman aneh-aneh selama menunaikan ibadah Hajji bukanlah dari gangguan Jin, melainkan ajakan berkenalan dari Tuan Rumah lewat amar-amar-Nya yang harus direspon dengan taubat (merobah cara hidup sebagaimana yang dikehendaki –Nya)
    Itulah misteri besar yang tersimpan di dalam diri seorang hamba yang telah menemukan kematiannya.
    "Hamba-Ku! Taatlah kepada-Ku, sehingga Kujadikan di dalam diri-Mu sifat robbaniyah. Bila kau katakan pada sesuau 'jadi', maka akan menjadi" (Hadits Qudsi). Dengan idiom Qur’an perintah itu menjadi:
    • "Dan sembahlah Tuhanmu, hingga datang kepadamu keyakinan!" (Q.15:99)

    Imanensi Rahimiyah Allah

    Ketika seseorang sudah tidak lagi jinak kepada apa dan siapa pun, sifatnya akan berubah menjadi penyantun dan penuh kasih sayang kepada sesamanya. Revolusi dirinya telah selesai, kini saatnya untuk memulai peran 'robbaniyahnya' di muka bumi.
    Saat itu dirinya sudah bukan dirinya lagi, melainkan orang Tuhan (ahlullah) yang dipandu dan dilindungi oleh-Nya dimana dan kapan saja.ia berada.
    Di dalam melaksanakan amar-Nya ia tidak lagi mengharap apa pun, selain ridla-Nya. Ridla Allah di dalam Al-Qur'an selalu disimbolkan dengan surga. Padahal surga tidak akan dapat dimasuki selain oleh 'Rahim', yaitu orang yang bersifat penyantun dan penuh kasih-sayang di dalam mengembangkan semesta kehidupan./ ‘La yadkhulul jannata illa rahim’ (Al-Hadits )
    Maka tidak salah apabila seorang pelacur bersaksi di depan seekor anjing yang kehausan, seraya menyerahkan air-minum yang didapatkannya dengan susah- payah di tengah padang pasir. Dan tidak salah pula ketika ia melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang surga.
    Ia hanya bisa menghampiri seekor anjing dengan perolehannya yang paling berarti hari itu. Habis, di depan matanya sudah tak ada lagi kemulyaan yang bisa ditemukan .
    Dan ia benar. Segala kemulyaan memang sirna, ketika Yang Maha Mulya telah datang kepadanya. Sungguh!
    Ternyata seorang pelacur pun mampu bersyahadat di depan Robbul-‘alamin dengan kerahimannya terhadap seekor anjing. Selanjutnya tinggal bagaimana ia memelihara dan mengembangkan sifat mulia yang telah ditawarkan Allah (Sang Pemilik sifat-sifat mulia) kepadanya.
    Demikianlah setiap individu memiliki caranya sendiri di dalam bermusyahadah dengan Robbul-‘alamin, sesuai dengan peran rububiyah yang diamanatkan Allah kepadanya.Ratu Bilkis yang lumpuh di depan kehebatan Sulaiman AS. mengucapkan "aslamtu ma’a sulaimana lillahi robbil-‘alamin"; para Penyihir Fir’aun yang terpesona dengan mu’jizat Musa As. mengucapkan "amanna birobbil ‘alamin"; Fir’aun ketika ditelan laut merah juga bersaksi "amantu birobbi musa wa harun" ; dan Saridin di depan Sunan Kudus dengan menjatuhkan diri dari atas pohon kelapa sehingga membuat beliau marah berat kepadanya.
    "Kuminta engkau mengucapkan syahadatain, bukan mendemonstrasikan kesaktian" kata Sunan.
    "Sumpah, saya tidak pernah belajar ilmu kesaktian. Hanya lidahku malu mengucapkan kalimat itu, karena tidak fasih. Biarlah daging, tulang dan kulitku yang bersaksi di depan Kanjeng Sunan. Silahkan memeriksanya, adakah luka-luka, balur atau kerusakan disana?" Saridin (Sirruddin) berhasil menjadi seorang Sufi yang merakyat dengan pengabdiannya yang optimal di jaman Sultan Agung Mataram.
    Sayang Fir’aun tidak memiliki kesempatan untuk mengabdikan perolehannya, karena maut segera menjemputnya. Maka rebutlah kematian sedini mungkin, sebelum ajal tiba.




    KEMATIAN

    KEMATIAN ASALAMMUALAIKUM WR WB . Hadirin yang kami muliakan KEMATIAN suatu kata yang tidak asing ditelinga kita, akan tetapi dapat menggetarkan hati setiap insan yang bernyawa, Mengapa .??? Karna kematian merupakan suatu KENISCAYAAN yang akan dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa , Entah dia seorang kaya atau seorang yang miskin entah dia seorang yang muda atau yang tua entahh dia seorang pejabat tinggi maupun rakyat kecil . PASTI akan mengalami kematian . Berkenaan dengan ini Allah SWT berfirman dalam Al-Qur an surat Al-Imran ayat 185 yang artinya : " Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian dan sesungguhnya semua amalan akan disempurnakan diakhirat nanti ". Berkenaan dengan ayat diatas tadi jelas sekali bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian . Ada suatu riwayat, suatu ketika Rasul SAW ditanya oleh salah seorang sahabat : " Ya Rasulullah ketika engkau telah tiada maka kepada siapa lagi hamba meminta NASEHAT . Rasul SAW menjawab: Wahai sahabat sesungguhnya aku telah meninggalkan 2 NASEHAT kepada kamu : Nasehat yang pertama adalah nasehat yang berbicara dan nasehat yang kedua adalah nasehat yang diam .Lalu sahabat kemudian bertanya lagi kepada Rasul Saw . : ya.. Rasulullah apakah nasehat Berbicara itu ya Rasul dan apakah nasehat yang diam itu ya.. Rasulullah. Rasulullah kemudian menjawab : wahai sahabat wahai sahabatku nasehat yang berbicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu adalah kematian . Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat , ya Rasulullah siapakah orang yang paling berakal dan siapakah orang yang paling bijaksana .? .Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.” Hadirin yang berbahagia kematian merupakan universitas terbaik dalam kehidupan kita , Mengapa ...??? . Karna seperti kita ketahui bersama bahwa kita sering diperhadap dengan suatu kejadian yang berkaitan dengan kematian . Ketika kita sama-sama memandinkan mayat , menyolati mayat , mengkafani simayat , dan mengantarkan mayat sampai di tempat peristiraharan terakhirnya . Dann kita tidak pernah akan mengetahui kapan giliran kita selanjutnya akan dipanggil . mungkin tahun ini , bulan ini , dan bahkan besok pun kita tidak pernah akan mengetahui kapan giliran kita selanjutnya akan dipanggil . Berikut ini sedikit nasehat yang ingin disampaikan oleh guru kematian diantaranya . Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga Tak ada satu buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan. Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul…." 2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya. Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran. Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian. 3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan. 4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir. 5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan. Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…" dengan menyebut, "Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah." (Dunia adalah ladang buat akhirat). Ingat hadirin kematian itu begitu dekat dan sangatlah dekat . Maka dari itu saya mengingatkan kepada seluruh hadirn marilah kita jadikan kematian sebagai guru terbaik kita agar kelak datang waktunya kita dipanggil kita telah siap untuk menghadapnya . Rasul SAW bersabda : cukuplah kematian itu menjadi nasehat . WASALAM